Ketika Bali Tak Lagi Seindah Ucapan ‘Om Swastiastu’: Antara Surga Wisata dan Ancaman Kehilangan Jati Diri

Bali yang (Tak Lagi) Sama

“Dulu, sawah masih terbentang luas di depan rumah saya. Sekarang, semua sudah jadi vila,” ujar Made, seorang warga asli Ubud yang saya temui beberapa waktu lalu.

Kalimat sederhana itu terdengar lirih, namun menyimpan kenyataan pahit tentang bagaimana Bali perlahan berubah — dari pulau yang penuh ketenangan menjadi magnet industri pariwisata yang tak henti dibangun dan dipoles.

Bali memang tak pernah kehilangan pesonanya. Pulau ini masih menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di dunia. Selain pantai-pantainya yang menawan, Bali juga dikenal dengan kekayaan budaya, tarian sakral, dan tradisi yang kuat melekat pada kehidupan sehari-hari warganya. Tak heran jika banyak wisatawan menilai bahwa Pulau Dewata selalu pantas masuk dalam daftar impian perjalanan mereka.

Namun, di balik cahaya gemerlapnya, ada bayang-bayang yang mulai meredupkan pesona Bali.

Pantai dan Surga yang Mulai Tergerus

Pantai di Bali bukan sekadar tempat bersantai sambil menyesap kelapa muda dan menunggu matahari tenggelam. Di sana, pengunjung bisa melakukan banyak hal: snorkeling menikmati keindahan bawah laut, menyelam bersama manta ray, berlayar dengan lumba-lumba, hingga berkano bersama pasangan. Pantai-pantai seperti Kuta, Canggu, Seminyak, Uluwatu, Sanur, dan Amed masih menjadi primadona bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Sayangnya, keindahan itu kini mulai bergeser. Garis pantai yang dulu alami kini semakin dipenuhi bangunan megah: beach club, hotel, dan bar berkonsep “luxury tropical”.

Investor datang silih berganti, berlomba menanam modal di tepi laut — menggantikan pepohonan kelapa dan hamparan sawah yang dulu menjadi napas Bali.

“Bali sekarang seperti dua dunia yang bertabrakan — antara yang suci dan yang komersial,” tutur I Wayan Sudirta, seorang pemerhati budaya Bali, dalam wawancara dengan Kompas (2024). “Kalau kita kehilangan keseimbangan, kita akan kehilangan ruh Bali itu sendiri.”

Antara Kemajuan dan Krisis Identitas

Tak bisa dipungkiri, pariwisata memberi kontribusi besar terhadap perekonomian Bali. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali tahun 2023, sektor pariwisata menyumbang sekitar 53 persen dari total PDRB provinsi, dengan lebih dari 4,5 juta wisatawan mancanegara datang setiap tahun. Namun di sisi lain, pembangunan besar-besaran juga membawa dampak lingkungan yang serius: krisis air, kemacetan parah, serta meningkatnya volume sampah dan limbah cair di kawasan pesisir.

Ketika saya melihat Bali hari ini, sulit menampik bahwa ada perubahan besar dari masa lalu. Dulu, udara terasa lebih segar, suara gamelan terdengar di pagi hari, dan anak-anak bermain di sawah dengan riang. Kini, di beberapa wilayah, gemerincing piring dan dentuman musik dari bar-bar modern lebih sering terdengar daripada suara seruling bambu.

Pemerintah daerah tampak membuka ruang lebar bagi investor untuk membangun berbagai fasilitas wisata demi mendongkrak ekonomi. Namun keberhasilan ekonomi ini tidak selalu sebanding dengan kerugian ekologis dan sosial yang harus ditanggung generasi mendatang.

Bali Butuh Diselamatkan — Bukan Sekadar Dipromosikan

Masalah lingkungan di Bali bukan lagi isu kecil. Penelitian Universitas Udayana (2023) menunjukkan bahwa debit air tanah di beberapa daerah pesisir menurun hingga lebih dari 40% dalam 10 tahun terakhir, terutama di Kuta, Canggu, dan Seminyak. Hal ini disebabkan oleh eksploitasi air untuk kebutuhan hotel dan vila.

Di sisi lain, tumpukan sampah di sungai dan pesisir semakin sulit dikendalikan, meski beberapa komunitas lokal sudah berusaha keras menanganinya.

“Bali tidak sedang kekurangan turis, tapi kekurangan keseimbangan,” ungkap Luh Ayu Tirtayani, aktivis lingkungan dari komunitas Sungai Watch. “Kami ingin Bali tetap maju, tapi dengan cara yang menghargai alam dan tradisi.”

Pernyataan itu menampar kesadaran kita semua. Bahwa pembangunan tanpa arah bisa mengikis makna spiritual Bali — pulau yang selama ini dikenal karena keharmonisannya antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana).

Menjaga Bali untuk Esok

Jika tidak ada langkah nyata dari pemerintah dan masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam, maka Bali bisa kehilangan jati dirinya.

Akan jadi apa Bali jika pantai-pantainya kehilangan pesona alami, jika upacara adat tergantikan oleh pesta musik, dan jika sawah-sawah berubah menjadi deretan beton tinggi?

Krisis ini tak akan berhenti jika hanya dibicarakan. Dibutuhkan tindakan bersama — mulai dari kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan, hingga kesadaran wisatawan untuk berkunjung dengan penuh tanggung jawab.

Karena pada akhirnya, Bali bukan hanya milik investor atau turis, tetapi milik generasi mendatang yang berhak menikmati pulau ini dalam keadaan yang masih lestari dan bernyawa.

Pulau yang Harus Kita Jaga, Bukan Hanya Kita Nikmati

Bali bukan sekadar tempat untuk berlibur, tetapi juga tempat di mana budaya, alam, dan spiritualitas hidup berdampingan. Jika salah satu dari ketiganya hilang, maka Bali tidak lagi menjadi Bali.

Menjaga Bali bukan tugas satu pihak, tapi kewajiban kita semua — agar kelak, ketika seseorang menyapa dengan kata “Om Swastiastu”, kita tahu bahwa sapaan itu masih berasal dari pulau yang benar-benar damai, selaras, dan penuh kehidupan.

Artikel ini pernah tayang di Kompasiana.com