Sirip Hiu dan Mitos Pengobatan: Saat Tradisi Justru Menyakiti Laut Kita

Beberapa waktu lalu, saya menonton rekaman seekor hiu martil dilempar kembali ke laut tanpa siripnya. Ia masih hidup, tapi tak lagi bisa berenang. Perlahan tubuhnya tenggelam, dan saya hanya bisa membayangkan betapa menyakitkannya mati dengan cara seperti itu.

Di beberapa negara Asia, termasuk Tiongkok, sirip hiu masih dikonsumsi sebagai bagian dari budaya dan dianggap mampu menyembuhkan penyakit serta meningkatkan vitalitas tubuh. Namun hingga kini, tidak ada satu pun bukti ilmiah yang membenarkan manfaat medis tersebut. Banyak peneliti menyebutnya sebagai pseudoscience, kepercayaan yang diwariskan tanpa dasar riset.

Sementara itu, dampaknya pada laut sangat nyata. Menurut penelitian University of British Columbia, lebih dari 100 juta hiu dibunuh setiap tahun, dan sebagian besar hanya untuk diambil siripnya (shark finning). Hiu martil, mako, hingga hiu harimau menjadi korban paling rentan.

Padahal, hiu adalah predator puncak. Tanpa mereka, keseimbangan ekosistem laut terganggu — populasi spesies tertentu dapat melonjak drastis, memicu ketidakseimbangan yang berpengaruh hingga ke rantai pangan manusia.

Ada harapan. Kampanye global dari organisasi seperti WildAid berhasil menurunkan konsumsi sirip hiu di Tiongkok hingga 82% sejak 2012. Kesadaran masyarakat berubah seiring terbukanya akses informasi.

Kini, semakin banyak orang mulai bertanya: Apakah benar sirip hiu menyembuhkan penyakit, atau hanya tradisi tanpa dasar?

Kita mungkin tidak berada di lautan, tapi kita punya peran penting: tidak mendukung konsumsi sirip hiu, ikut menyebarkan informasi yang benar, dan menanamkan kepedulian pada generasi muda.

Karena menjaga laut bukan hanya soal menyelamatkan hiu. Ini tentang memastikan bumi tetap hidup — untuk kita semua.

Jika laut adalah jantung bumi, maka hiu adalah detaknya. Dan setiap detak layak diperjuangkan.