Hujan deras yang turun hingga sore hari sempat membuat suasana kegiatan penanaman mangrove terasa sendu. Namun sesampainya kami di lokasi, hujan telah berhenti, menyisakan udara lembap dan aroma tanah basah yang menenangkan. Sore itu, kegiatan penanaman mangrove yang diselenggarakan oleh organisasi non-profit Bendega akhirnya dimulai.
Acara berlangsung pada 9 November 2025 di pesisir Pantai Kelan Kangin, Bali, diikuti oleh sekitar 50 orang peserta yang terdiri dari para pegiat dan pecinta lingkungan dari berbagai daerah di Bali. Kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin bulanan Bendega yang bertujuan menanam mangrove sekaligus melakukan aksi bersih-bersih sampah di sekitar pantai.
“Hari ini kita akan menanam 200 bibit mangrove yang sudah kami sediakan. Setelah itu, kita lanjut bersih-bersih sampah di sekitarnya,” ujar Ronaldo Damar S., salah satu panitia kegiatan.
Bendega: Dari Rumah Mangrove hingga Gerakan Pesisir
Bendega lahir dari gagasan Fajar Lukman Hakim, seorang pemuda asal Banyuwangi yang peduli terhadap kelestarian ekosistem pesisir. Sejak berdiri pada tahun 2019 dengan nama awal Rumah Mangrove, organisasi ini terus berkembang hingga akhirnya pada 2021 berganti nama menjadi Bendega — sebuah startup yang berfokus pada pelestarian dan pemanfaatan ekosistem mangrove serta peningkatan kesejahteraan nelayan.
Saat ini Bendega mengelola lahan seluas 21 hektare di kawasan pesisir dan bekerja sama dengan 238 nelayan yang tergabung dalam tujuh kelompok nelayan.
“Penanaman mangrove sudah kami lakukan sejak beberapa tahun lalu di berbagai daerah, seperti Bali, Banyuwangi, Jayapura, dan Lombok,” jelas Byan Sinatra, CEO Bendega.
Kolaborasi yang Menghidupkan
Kegiatan Bendega tak hanya melibatkan individu atau komunitas, tetapi juga berbagai pihak dari organisasi, donatur, hingga perusahaan melalui program CSR (Corporate Social Responsibility). Di Bali, kegiatan penanaman mangrove telah dilakukan di beberapa lokasi seperti Pantai Kelan Kangin, Taman Kepiting Serangan, dan Jembrana.
Salah satu donatur tetap yang rutin mendukung program ini adalah Siemens Energy, diikuti oleh Jasamarga serta beberapa bank nasional. Para donatur ini memperoleh Sertifikat Karbon sebagai bukti komitmen terhadap perlindungan alam dan keberlanjutan sosial—sebuah langkah yang juga diakui oleh OJK.
Selain itu, ada pula komunitas relawan seperti Adventure Indonesia yang setiap bulan berpartisipasi dalam penanaman mangrove di pesisir Bali. Bibit yang mereka tanam dibeli dari nelayan lokal yang membudidayakannya secara mandiri, sehingga kegiatan ini tidak hanya melestarikan lingkungan tetapi juga membantu ekonomi masyarakat pesisir. Rata-rata, nelayan menyuplai 100–200 bibit setiap bulannya kepada Bendega dan para relawan.
Dari Buah Mangrove untuk Alam dan Masyarakat
Menariknya, Bendega tak hanya menanam mangrove, tetapi juga mengolah buah mangrove menjadi berbagai produk pangan bernilai tinggi. Mereka mempromosikan bahwa mangrove bukan sekadar penyerap karbon, tetapi juga sumber pangan yang kaya manfaat.
Beragam olahan yang mereka hasilkan antara lain keripik, cookies, brownies, dan minuman dari buah mangrove. Inovasi ini menjadi wujud nyata kearifan lokal—bahwa menjaga alam bisa berjalan beriringan dengan menggerakkan ekonomi masyarakat.
Kisah dari Relawan
Salah satu peserta, Dea, berbagi pengalamannya usai ikut serta menanam mangrove untuk pertama kalinya.
“Suka banget! Ini pertama kali saya nanam mangrove, dan rasanya senang bisa ikut berkontribusi,” ujarnya sambil tersenyum.
Setelah kegiatan penanaman selesai, para peserta juga diajak melakukan pembersihan sampah plastik di sekitar pesisir. Mengingat musim hujan mulai datang, kegiatan ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai. Sampah-sampah yang terbawa arus akan berakhir di laut dan mencemari pantai—rumah bagi ribuan biota laut.
Tentang Alam, Harapan, dan Daun Pisang
Menjelang senja, kegiatan diakhiri dengan makan bersama. Panitia membagikan nasi jingo berbungkus daun pisang kepada para peserta. Pilihan sederhana namun sarat makna—menggunakan bahan alami sebagai simbol kepedulian terhadap alam.
Melalui kegiatan ini, Bendega mengingatkan kita bahwa menjaga alam bukan hanya soal menanam pohon, tetapi juga menanam kesadaran dan harapan. Karena dari satu bibit kecil yang ditanam hari ini, kehidupan baru di pesisir akan tumbuh, memberi naungan bagi generasi mendatang.

