Zaman semakin modern — dan bersama itu, cara kita memandang peran perempuan pun ikut bergeser. Bila dulu perempuan sering dibatasi hanya pada ruang domestik — “dapur, sumur, kasur” — kini semakin banyak perempuan yang berdiri tegak di ruang publik. Mereka bekerja, berkarya, mandiri secara finansial, menentukan arah hidupnya sendiri. Namun, realitas di lapangan masih menunjukkan tantangan.
Menurut data World Bank, partisipasi perempuan usia produktif di Indonesia dalam angkatan kerja tercatat sekitar 52,58 % pada tahun 2024. Sementara itu, tingkat partisipasi laki-laki jauh lebih tinggi, menunjukkan adanya gap gender yang masih melebar. Bahkan jumlah perempuan yang berada di sektor formal juga belum ideal — data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa perempuan hanya sekitar 36,32 % dari tenaga kerja formal. Dengan kata lain: banyak perempuan yang ingin dan bisa bekerja, tapi berbagai faktor masih membatasi.
“The most important thing for women is to be able to think for themselves and to have the courage to speak out.” — R.A. Kartini
“Empowerment of women leads to an empowered economy.” — Sri Mulyani Indrawati
Kutipan-kutipan ini mengingatkan kita bahwa pemberdayaan perempuan bukan semata simbolik, tetapi juga strategis — bagi perempuan itu sendiri, dan bagi kemajuan seluruh masyarakat.
Peran dan Persepsi: Antara Kodrat & Mandiri
Masih terdapat pandangan yang kecut terhadap perempuan yang sukses di luar rumah: “Bukankah tugas utama perempuan adalah di rumah, merawat anak dan keluarga?” Pertanyaan seperti ini muncul karena masih hidupnya stereotip lama. Memang benar: menjadi ibu rumah tangga dan merawat anak adalah pekerjaan besar dan mulia. Tetapi pilihan itu tidak boleh menjadi satu-satunya yang dibenarkan, apalagi menjadi pembatas bagi perempuan yang punya keinginan lebih luas.
Perempuan memiliki kemampuan multitasking, ketahanan mental yang kuat, dan kepekaan sosial tinggi. Semua kekuatan ini bukan hanya bermanfaat di ranah domestik, tetapi juga dalam dunia kerja dan ruang sosial. Ketika perempuan berkarya, mereka tidak hanya berdiri untuk dirinya sendiri — tetapi juga membuka jalan bagi generasi selanjutnya.
Dari Ruang Pribadi ke Ruang Publik: Contoh Nyata
Menilik sejarah Indonesia, sosok R.A. Kartini menjadi mercusuar perubahan. Ia mendobrak pemikiran bahwa perempuan hanya boleh diam dan menjalankan tugas domestik. Ia berkata bahwa perempuan harus bisa berpikir sendiri dan berani bersuara. Penolakannya terhadap pembatasan pendidikan bagi perempuan menjadikannya ikon hak perempuan di Indonesia.
Kini, perempuan Indonesia semakin banyak yang mengejar pendidikan tinggi, bekerja di profesi strategis, maupun menjadi penggerak sosial. Tetapi jalan menuju kesetaraan masih panjang: pelbagai riset menunjukkan bahwa ekspansi ekonomi yang dihasilkan dari ekspor dan industri belum secara signifikan mengangkat perempuan ke posisi yang setara. Sebagai contoh, seorang peneliti menemukan bahwa peningkatan ekspor di Indonesia — yang banyak berada di sektor sumber daya alam yang didominasi laki-laki — justru sering kali mengurangi kesempatan kerja perempuan.
Pendidikan: Kunci Utama
Perempuan harus berani menempuh pendidikan setinggi mungkin — bukan sekadar mengejar gelar, tetapi untuk memperluas wawasan, meningkatkan kemandirian, dan menjadi agen perubahan untuk keluarga & masyarakat. Pendidikan adalah kunci untuk memutus rantai kemiskinan, menumbuhkan pemikiran kritis, dan membentuk generasi cerdas serta empatik.
Bagaimana jika perempuan tetap terbatas dalam akses pendidikan atau akses kerja? Maka potensi yang besar itu menjadi tersembunyi. Sedangkan jika perempuan diberikan kesempatan yang setara, maka bukan hanya mereka yang diuntungkan — seluruh masyarakat dan ekonomi pun akan memperoleh manfaat lebih besar.
Memilih Peran dengan Sadar
Menjadi perempuan pada era ini bukan hanya soal peran apa yang dipilih — di rumah atau di luar rumah. Yang terpenting adalah kemampuan memilih dengan sadar, mandiri, bermartabat. Seorang perempuan boleh memilih menjadi ibu penuh waktu, boleh juga memilih bekerja, atau kombinasi keduanya. Namun pilihan itu didasarkan pada hak dan potensi, bukan pembatasan sosial.
Dalam kenyataan, mandiri secara finansial bukan berarti harus meninggalkan keluarga atau peran domestik. Mandiri berarti mampu menjaga diri, memiliki pilihan, dan berkontribusi — dalam kapasitas apa pun yang dipilih. Mandiri juga berarti bila keadaan menuntut kita turun tangan, kita siap, dan bila keadaan memberi kesempatan, kita juga berani melangkah.
Tantangan dan Arah ke Depan
Tantangan masih nyata: diskriminasi gender dalam akses kerja formal, upah yang belum setara, budaya patriarki yang masih kuat, dan sistem yang belum sepenuhnya mengakomodasi perempuan — misalnya dalam bentuk kebijakan kerja fleksibel, cuti melahirkan yang memadai, atau perlindungan hukum yang kuat.
Untuk itu, perhatian harus bersama-sama: pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan perempuan itu sendiri. Membuka ruang partisipasi perempuan bukan hanya benar dari segi keadilan, tapi juga strategis bagi pembangunan nasional. Angka partisipasi kerja perempuan yang stagnan atau rendah menunjukkan bahwa terdapat “potensi tertunda” yang bisa diraih.
Perempuan bukan sekadar pelengkap dalam cerita. Mereka adalah penulis cerita sendiri — dengan hak, pilihan, dan potensi yang besar. Seperti yang dikatakan Sri Mulyani: “Empowerment of women leads to an empowered economy.” Ketika perempuan diberi kesempatan yang sama, maka bukan hanya perempuan itu yang menang — tetapi seluruh bangsa ikut maju.
Mari kita hormati keberagaman peran perempuan, bantu perempuan untuk mengejar pendidikan tinggi, membuka jalan untuk berkarya, memilih dengan sadar. Dan yang lebih penting: mari kita ubah narasi lama yang membatasi, menjadi narasi baru yang memberi ruang. Karena sejatinya, perempuan yang tahu arah dan tujuan hidupnya dengan jelas, adalah kekuatan besar untuk masa depan yang lebih baik.
Artikel ini pernah tayang di Kompasiana.com

