Dua abad setelah Revolusi Industri mengubah dunia, manusia kini berhadapan dengan ciptaannya sendiri — plastik, polusi, dan panas yang kian menyesakkan. Bumi seperti kompor raksasa yang perlahan dinaikkan suhunya — dan kita semua di dalamnya.
Peradaban modern yang lahir dari mesin uap dan pabrik baja telah membawa kemajuan besar dalam sejarah manusia. Namun, dalam 200 tahun sejak plastik pertama kali ditemukan sebagai inovasi yang memudahkan kehidupan, kita kini justru dihadapkan pada paradoks besar: kemajuan yang dulu membebaskan manusia dari kesulitan, kini menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup itu sendiri.
Jejak Panjang Industrialisasi dan Krisis Iklim
Peralihan masa industrialisasi di abad ke-19 menjadi tonggak awal perubahan besar di dunia. Mesin, pabrik, dan konsumsi massal membuka jalan bagi gaya hidup modern, tetapi juga meninggalkan jejak karbon yang semakin menumpuk. Hingga kini, manusia belum sepenuhnya berhasil beralih ke energi terbarukan.
Menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), suhu bumi telah meningkat sekitar 1,2 derajat Celsius sejak era praindustri. Jika tidak ada langkah konkret, kenaikannya bisa mencapai 3 hingga 5 derajat Celsius pada akhir abad ini — cukup untuk membuat banyak wilayah di bumi tak layak huni.
Di beberapa negara Eropa dan India, suhu ekstrem mencapai 50 derajat Celsius, memecahkan rekor panas dunia. Bukan hanya manusia yang kesulitan bertahan, tetapi juga satwa liar, tumbuhan, dan ekosistem yang menjadi penopang kehidupan.
Suara dari Negeri yang Mulai Tenggelam
Dampak paling nyata perubahan iklim dirasakan oleh negara-negara kecil di kawasan Asia Pasifik. Di pulau-pulau kecil sekitar Selandia Baru dan Kepulauan Pasifik Selatan, masyarakat nelayan kini hidup dalam ketidakpastian.
Salah satu warga dari Kepulauan Tuvalu, dalam wawancara dengan The Guardian, mengaku bahwa air laut telah naik lebih dari 3 meter dalam beberapa dekade terakhir.
“Kami dulu bisa memperbaiki rumah hanya dengan menambah tiang kayu. Sekarang, bahkan fondasi kami ikut hanyut,” ujarnya lirih.
Suhu laut yang semakin panas membuat ikan-ikan bermigrasi ke perairan yang lebih dingin. Para nelayan kehilangan mata pencaharian, dan terumbu karang yang dulu menjadi rumah bagi biota laut kini memutih dan mati. Fenomena coral bleaching ini adalah salah satu tanda paling jelas bahwa laut pun sedang berteriak kesakitan.
Ironi Plastik dan Polusi yang Tak Berujung
Ironisnya, plastik yang dulu diciptakan untuk mempermudah hidup manusia kini menjadi simbol dari peradaban yang rakus. Setiap tahun, dunia menghasilkan lebih dari 400 juta ton plastik, dan sebagian besar berakhir di laut. Plastik-plastik itu terurai menjadi mikroplastik yang masuk ke tubuh ikan — dan akhirnya, ke tubuh manusia sendiri.
Seorang peneliti dari World Wildlife Fund (WWF) menyebutkan, rata-rata manusia kini mengonsumsi sekitar 5 gram mikroplastik per minggu, setara dengan satu kartu kredit.
“Kita sedang memakan hasil dari peradaban kita sendiri,” katanya.
Lambatnya Transisi Energi dan Tantangan Global
Beberapa negara besar memang telah memulai langkah menuju energi bersih. Negara-negara di Eropa mulai beralih ke kincir angin dan panel surya, sementara beberapa negara Asia berinvestasi besar pada kendaraan listrik. Namun, secara global, transisi ini masih terlalu lambat.
Perjanjian Paris 2015 menargetkan agar suhu bumi tidak naik lebih dari 2 derajat Celsius pada tahun 2050. Namun laporan United Nations Environment Programme (UNEP) tahun 2024 menyebutkan, sebagian besar negara masih jauh dari target itu. Konsumsi energi fosil bahkan meningkat di beberapa wilayah berkembang karena kebutuhan industri dan pertumbuhan populasi.
Kita seperti sedang berlomba dengan waktu — dan sejauh ini, waktu sedang unggul.
Harapan Masih Ada
Meski situasi tampak suram, harapan belum sepenuhnya padam. Semakin banyak komunitas lokal, ilmuwan muda, dan aktivis lingkungan yang bergerak dari bawah. Di Indonesia, misalnya, gerakan EcoRanger Bali dan Bye Bye Plastic Bags yang digagas oleh dua remaja Bali, Melati dan Isabel Wijsen, telah menjadi inspirasi global dalam memerangi sampah plastik.
“Kita tidak perlu menunggu menjadi dewasa untuk membuat perubahan,” kata Melati dalam salah satu pidatonya di PBB.
Kalimat itu mengingatkan kita bahwa perubahan tidak harus dimulai dari ruang rapat atau perjanjian antarnegara, tetapi bisa dimulai dari langkah kecil — memilah sampah, mengurangi konsumsi plastik sekali pakai, dan menggunakan energi secara bijak.
Waktu yang Semakin Menyempit
Bumi sedang memberi tanda-tanda kelelahan. Setiap banjir bandang, kekeringan panjang, atau kebakaran hutan bukanlah sekadar bencana alam — melainkan panggilan darurat dari planet yang kita sebut rumah.
Jika manusia terus menunda perubahan, maka krisis ini akan menjadi warisan pahit bagi generasi mendatang. Namun jika setiap dari kita mulai bertindak sekarang, masih ada kesempatan untuk menurunkan panas di kompor raksasa bernama Bumi ini.
Karena sejatinya, menyelamatkan bumi bukan sekadar menyelamatkan lingkungan — tapi menyelamatkan kehidupan itu sendiri.
Artikel ini pernah tayang di Kompasiana.com

