Bekerja di Perusahaan Toxic Bisa Merusak Kesehatan Mental

Bagi banyak orang, bekerja di perusahaan ternama dan mendapatkan posisi impian adalah cita-cita besar. Namun realitas di lapangan tidak selalu seindah bayangan. Lingkungan kerja yang toxic justru bisa menggerus kesehatan mental, terutama bagi pekerja yang baru pertama kali masuk dunia profesional. Berikut beberapa pengalaman narasumber tentang pahitnya bekerja di perusahaan dengan budaya kerja yang tidak sehat.

Lita (nama samaran) mengawali kariernya penuh semangat. Ia sempat bimbang antara bekerja di perusahaan swasta atau mencoba peruntungan di instansi pemerintah. Akhirnya ia memilih perusahaan swasta. Namun beberapa bulan berjalan, harapan mulai runtuh. Ia tidak mendapatkan pelatihan memadai, sementara sikap atasannya jauh dari ramah. Ketika ada karyawan baru lain di divisi yang sama, perlakuan yang diberikan terasa berbeda—lebih hangat dan mendukung, seolah-olah Lita tak pernah dianggap. Tanpa bimbingan, ia harus belajar mengatasi masalah sendiri, membuat pengalaman kerja pertamanya terasa penuh tekanan.

Cerita serupa datang dari Tia (nama samaran lainnya). Ia mendapat pekerjaan melalui rekomendasi teman dan berhasil lolos wawancara. Awalnya ia tidak keberatan menerima banyak tugas. Namun semakin lama, pekerjaannya terasa tidak jelas arah dan batasannya. Jobdesk-nya berubah-ubah, tidak sesuai deskripsi awal. Ia kerap merasa kelelahan dan burnout, namun tidak berani mengeluh karena takut dianggap tidak kompeten. Ketiadaan sistem manajemen yang jelas membuatnya merasa bekerja tanpa pegangan.

Ada pula Ayu, yang bekerja dekat dengan manajer operasional. Karena dinilai kompeten, tugas yang diberikan kepadanya semakin banyak—bahkan beberapa berada di luar tanggung jawab jabatannya. Sistem kerja yang belum matang memaksanya memikul beban ganda. Di sisi lain, manajernya sering berubah-ubah keputusan dan mudah emosional ketika menghadapi masalah. Situasi ini membuat Ayu kerap merasa lelah secara fisik dan mental.

Ketiga kisah ini menunjukkan bahwa niat baik pekerja untuk berkembang tidak selalu dibalas dengan kondisi kerja yang mendukung. Banyak perusahaan masih lebih fokus pada keuntungan ketimbang kesejahteraan karyawan. Budaya “yang kuat bertahan, yang lemah tersingkir” masih dipertahankan, sementara sistem kerja tidak dibangun dengan baik. Akibatnya, karyawan merasa terabaikan, tertekan, dan akhirnya memilih resign demi kesehatan mental mereka.

Lingkungan kerja yang toxic bukan hanya merugikan individu, tetapi juga merusak kualitas perusahaan dalam jangka panjang. Ketika perusahaan gagal membangun sistem yang sehat dan menghargai tenaga kerja, pergantian karyawan akan terus terjadi, dan masalah yang sama akan terulang—meskipun wajah-wajah baru terus menggantikan yang lama.

Pada akhirnya, tempat kerja semestinya menjadi ruang tumbuh, bukan sumber tekanan yang merusak mental. Perusahaan perlu memahami bahwa kesejahteraan karyawan bukan opsi tambahan, melainkan fondasi keberhasilan bersama.