Fakta Kerja di Bali Tidak Seindah Kata Orang

Saat pertama kali tiba untuk kerja di Bali dengan koper dan mimpi besar, Tari merasa semua akan mudah. Dia akan mudah menemukan pantai, senja, dan pariwisata yang gemerlap. Tapi kenyataannya? Dia harus tidur di alas yang tipis, susah mencari kos murah, dan bertahan sendirian di kota penuh harapan dan tekanan.

Persiapan finansial sebelum kerja di Bali

Banyak orang kerja di Bali karena ingin mandiri dan finansial yang stabil. Namun, merantau ke “tempat turis” seperti Bali nggak bisa kalau sekadar “nekat”. Kamu perlu dana memadai. 

Tari, yang memutuskan kerja di Bali, berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Ketika merantau, dia tinggal di kos kecil dengan kasur matras seharga Rp400 ribu per bulan sembari mencari pekerjaan.

Menurut data resmi, Upah Minimum Provinsi (UMP) Bali untuk tahun 2025 ditetapkan sebesar Rp 2.996.561 per bulan. Di beberapa kabupaten, Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) tahun 2025 seperti Kabupaten Badung mencapai Rp 3.534.338,88.

Jelas, ini bukan angka yang besar. Oleh sebab itu, pemasukan dan pengeluaran harus seimbang.

Gaji yang masih tergolong rendah

Karena banyak orang berpikir bahwa kerja di Bali berarti gaji tinggi karena pariwisata, sehingga ekspektasi cepat terpenuhi. Nyatanya, meski UMP/UMK cukup tinggi dibanding beberapa daerah, biaya hidup di sana juga lebih tinggi.

Mulai dari transportasi, sewa kos, internet, dan makanan. Semua bisa lebih mahal dari tempat asal. Jika kamu cuma dapat gaji minim sementara tanggungannya banyak, maka kata “mandiri” bisa menjadi beban baru.

Tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan baru

Di Jawa, mungkin kamu terbiasa dengan lingkungan yang sudah familiar. Di Bali, selain lingkungan lokal, kamu juga menghadapi pendatang dan turis asing. Tari bercerita. Da bekerja dengan rekan asal Bali yang kadang menunjukkan sikap berbeda terhadap pendatang. Pertumbuhan penduduk dan migrasi ke Bali menambah tekanan pada fasilitas, kos-kosan, dan hubungan sosial.

Adaptasi bukan sekadar kerja keras. Ini soal berdamai dengan kondisi baru, budaya yang berbeda, dan terkadang pandangan “pendatang” dari orang lokal.

Kerja di Bali dan dapat bos bule itu belum tentu “mudah”

Contoh lain, namanya Noval. Dia seorang pendatang yang menyewa motor bulanan dan tinggal di kawasan Seminyak. Noval bekerja untuk bos bule di Canggu dan harus bolak-balik dari kos ke tempat kerja. Dia sering lembur tanpa bayaran tambahan, serta jobdesk di luar tanggung jawab utama.

Cerita seperti ini menunjukkan bahwa walaupun “kerja di Bali” terdengar glamor, kenyataannya bisa menipu. Tetap saja seperti “budak” dan adilnya belum tentu.

Tempat tinggal sulit dan kemacetan jalanan

Selepas pandemi, pendatang lokal maupun asing meningkat cukup tinggi. Akibatnya, kos-kosan murah menjadi langka, harga pada naik, dan area wisata menjadi lebih padat.

Data BPS menunjukkan bahwa distribusi dan kepadatan penduduk Provinsi Bali terus meningkat. Kemacetan dan persaingan mencari tempat tinggal menjadi bagian dari “realita merantau”. Jadi, ada dua beban, pekerjaan + kehidupan sehari-hari yang menantang.

Kerja di Bali bisa tetap menjadi pilihan. Tapi, jangan sampai kamu merantau ke sana dengan masih membawa mitos bahwa Bali itu “hidup santai di pulau indah”. Ingat, intinya adalah bukan sekadar sampai, tetapi bagaimana kamu bertahan hidup di Bali.

Artikel ini pernah tayang di Mojok.co